Menu Close

4 Kerugian Membeli Rumah dengan KPR beserta Solusinya!

Kredit pemilikan rumah (KPR) adalah solusi untuk mereka yang menginginkan langsung mempunyai rumah dengan dana terbatas. Namun hati-hati, ada kemungkinan rugi dalam menggunakan KPR.

Seperti jenis layanan kredit lainnya dari bank, ada persyaratan dan ketetapan yang seharusnya ditaati. Masalahnya, banyak orang yang tergiur oleh manfaat KPR saja.

Akibatnya, surat perjanjian yang diberikan pihak bank hanya sebentar saja dilihat. Bahkan dibaca hanya yang paling atas dan paling bawah, lalu langsung ditandatangani.

Namun, point dalam surat itu seharusnya benar-benar dipahami agar tidak rugi saat menggunakan KPR untuk membeli rumah. Mungkin ada yang berpikir, “Ah, masa sih ada kerugian KPR.”

Sayangnya, jawabannya adalah “ada”. Namun informasi baiknya adalah kerugian itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi pengaruh kita yang kurang teliti.

Baca Juga: Cluster Baru di Sentul City

Berikut ini adalah kerugian KPR dan solusinya:

1. Asal melunasi DP

Ingat, jika sudah membayar booking fee dan menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dengan penjual atau developer rumah, santai saja. Tidak perlu khawatir rumah akan diserobot orang lain.

Makanya, sebelum melunasi down payment (DP), baca perjanjian KPR dari bank dengan teliti. Lihat benar tidak angka suku bunga yang diatur sesuai dengan prosedur.

Berapa penalti jika melakukan pelunasan yang dipercepat. Berapa pula biaya keterlambatan angsuran. Santai saja, asal tidak lewat batas waktu pembayaran DP.

Ketidakcermatan membaca perjanjian dapat mendatangkan kerugian disaat KPR telah berjalan. Misalkan bunga rupanya lebih tinggi. Agenda angsuran KPR bisa berantakan.

2. Salah pilih asuransi

Kenapa membahas asuransi? Jadi begini. Bank menggunakan kewajiban perlindungan asuransi untuk nasabah yang mengakses layanan kreditnya, termasuk KPR.

Asuransi tersebut antara lain kebakaran dan jiwa. Dengan demikian, rumah akan terlindungi dari resiko kebakaran. Meskipun angsuran rumah aman misalkan nasabah meninggal ketika KPR belum lunas. Hal ini diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/ 35 /DPNP tanggal 23 Desember 2010.

Masalahnya, nasabah sering kali “iya-iya” saja dengan pilihan asuransi yang ditawarkan bank. Dahulu memang bank yang memilihkan. Namun sekarang beberapa bank memperbolehkan nasabah memilih asuransi sendiri, seperti BRI.

Cek Juga: Perumahan di Sentul Bogor

Jadi, carilah asuransi yang perlindungannya cocok dengan keperluan. Misalnya merasa tidak ada risiko kebakaran atau tidak memerlukan perlindungan dari kebakaran, coba nego supaya tidak perlu bayar premi tersebut.

Soal asuransi jiwa, carilah yang lengkap memproteksi diri dari kecelakaan sampai penyakit kritis. Lalu, pastikan uang pertanggungannya dapat menutup plafon kredit, paling tidak dua kali lipat plafon.

Misalkan kredit bank Rp 500 juta, cari asuransi jiwa dengan uang pertanggungan Rp 1 miliar. Misalnya kita meninggal ketika masih harus mengredit KPR, sisa utang dapat lunas dengan uang pertanggungan tersebut.

Selain itu, masih ada sisa plafon yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga. Memang, preminya mungkin lebih besar, namun saat ini ada program no claim bonus asuransi tertentu. Artinya, kalau tidak ada klaim, duit premi yang disetor dapat dikembalikan sampai 100 persen ketika jangka waktu asuransi berakhir.

3. Lalai mengecek dokumen

Syarat KPR memerlukan berbagai dokumen, dari identitas hingga salinan buku tabungan. Lalai memberikan satu lembar dokumen saja akan menghalangi cara kerja pencairan KPR.

Dampaknya semakin lama pengurusan jual-beli rumah. Artinya, rumah tidak dapat langsung ditempati jika sudah jadi.

Kunjungi Juga: Perumahan Sentul City

Yang juga penting adalah dokumen yang berhubungan dengan asuransi. Ini akan berakibat fatal jika terjadi kelalaian.

Seperti yang dibahas sebelumnya, asuransi melindungi nasabah dari risiko kerugian. Namun, jika dokumen asuransi tidak lengkap, maka klaim uang pertanggungan akan ribet. Bahkan mungkin dapat ditolak.

Bank dalam hal ini tidak dapat berbuat apa-apa, karena hanya menjadi perantara. Yang mengurusi adalah perusahaan asuransi yang menjadi rekanan dalam KPR.

4. Biaya notaris kemahalan

Umumnya notaris dalam KPR dipilihkan oleh bank. Tapi dapat juga kita mengusulkan notaris sendiri.

Justru itulah yang direkomendasikan. Harapannya,  biaya notaris menjadi lebih transparan.

Walaupun dipilih bank, tidak mustahil notaris yang mengurusi legalitas transaksi rumah itu nakal. Kabur mungkin tidak mungkin. Namun menggelembungkan biaya notaris, bisa saja terjadi.

Itulah empat kerugian yang dapat timbul disaat menggunakan layanan KPR, berikut solusi yang dapat dipertimbangkan.

Jangan hingga terlena oleh bujukan developer atau petugas bank. Memang, fasilitas KPR sangat menolong. Tapi kewaspadaan tetaplah nomor satu jika urusannya masalah uang.

Simak Juga: Jual Rumah Sentul